Pages

Labels

Selasa, 24 Agustus 2010

Meski Kaya Seniman, Jogja Miskin Film

Siapa yang menyangkal bahwa sebagian besar seniman nasional asalnya dari Jogja? Siapa yang menyangkal bahwa Jogja memiliki peran besar dalam perfilman nasional? Tapi siapa yang bisa menyebutkan apa saja film produksi asli Jogja? Ternyata, meski kaya akan seniman handal, Jogja miskin film.

Itulah sepenggal keluhan aktor senior dan sutradara film nasional Slamet Rahardjo Djarot mengenai Jogja yang menurutnya juga merupakan kampung halamannya selain Sunda yang merupakan tempat kelahirannya.

Pria kelahiran Serang, Banten 21 Januari 1949 itu menyatakan bahwa saat ini Jogja hanyalah menjadi tempat lokasi syuting sejumlah film yang sama sekali tak berkaitan langsung dengan Jogja. Menurutnya, hal tersebut sangat disayangkan.

"Bahkan FTV itu sebenarnya merupakan penghinaan bagi masyarakat Jogja. Mereka yang memanfaatkan Jogja datang tanpa kulo nuwun, tanpa mengetahui bagaimana sejatinya jalan pikiran Jogja," ujarnya dalam workshop 'Jogja Goes to Screen' Membangun Industri Ideal Perfilman di Yogyakarta, di Ruang Seminar TBY, Senin (23/8).

Bagi Slamet, hanya ada beberapa film yang mampu menerjemahkan jalan pikiran sejati masyarakat Jogja ke dalam layar lebar. "Coba lihat film '6 Jam di Jogja' karya Usmar Ismail dan 'November 88' karya Teguh Karya. Film tersebut adalah film Jogja," terangnya.

Slamet mengkui bahwa biaya pembuatan film memang cukup besar. Untuk itu dibutuhkan pihak yang memang peduli dan komitmen terhadap dunia perfilman khususnya di Yogyakarta.

"Film memang butuh duit, tak hanya doa restu saja. Di Jogja tak ada orang yang mau mengeluarkan duit untuk membuat film. Padahal sangat banyak yang bisa diangkat dari Jogja misalnya masalah kehidupan yang terjadi dalam masyarakat dll," tegasnya.

Untuk itu, Slamet menyindir pihak pemerintah dan penguasa yang hingga saat ini belum juga menyadari potensi luar biasa yang dimiliki oleh Jogja dalam hal perfilman.

Pada kesempatan tersebut, Slamet juga berharap agar jika ada kesempatan, Jogja harus mendirikan sebuah komunitas film yang nantinya bisa dipandang oleh masyarakat bahkan di tingkat nasional. "Yang penting adalah membuat dulu film besar," pintanya.

Seharusnya, Jogja bisa membuat banyak film produksi asli Jogja mnengingat banyaknya seniman dan sutradara ternama asal kota budaya ini. Lebih-lebih, ternyata ada sebanyak 40 rumah produksi film.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi DIY, Djoko Dwiyanto menyatakan pihaknya tahun ini telah dan sedang menjalankan tiga kegiatan sebagai upaya mendukung dan mengembangkan perfilman DIY.

"Kami sedang melakukan kajian film, membuat direktori lokasi syuting di DIY, serta menggelar festival film indie dan sejumlah proyek pembuatan film televisi (FTV)," paparnya. 


Sumber : gudeg.net

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About